Pikachu yang Melaut dan Negeri Bahari yang Karam dalam Kenangan
Oleh: Dendy Raditya Atmosuwito

Pada tanggal 27 Februari 2026, tepat di perayaan ulang tahun ke-30 franchise Pokémon, Game Freak mengumumkan dua judul baru: Pokémon Winds dan Pokémon Waves. Trailer pengumumannya dibuka dengan sinematik Pikachu yang bepergian melewati sembilan generasi wilayah Pokémon, dari Kanto hingga Paldea, sebuah penghormatan panjang kepada tiga dekade perjalanan. Lalu tibalah pada sebuah kepulauan tropis baru: pantai berpasir putih, Wailord raksasa yang menyemburkan air dari lautan, dan yang paling menggetarkan, fitur eksplorasi bawah laut.
Saya menonton trailer itu sambil bersantap sahur di dini hari, dan tiba-tiba saya merasa sedih. Bukan karena Pokémon-nya jelek. Sebaliknya, justru karena terlalu bagus. Di layar terhampar kepulauan tropis dengan siklus siang-malam yang nyata, Pokémon air yang berenang di bawah permukaan laut, dan kota tepi pantai yang terhubung oleh jembatan-jembatan akuatik. Kemudian saya menyadari sesuatu: sebuah perusahaan Jepang yang membuat game untuk konsol Nintendo baru saja menggambarkan visi negeri bahari dengan lebih serius, lebih kohesif, dan lebih menggerakkan hati, dibanding pemerintah Indonesia dalam beberapa dekade terakhir.
Indonesia, seperti yang selalu kita hafal di pelajaran IPS kelas empat, adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Lebih dari 17.000 pulau, garis pantai lebih dari 95.000 kilometer, dan lebih dari 60 persen penduduknya bermukim di daerah pesisir. Dalam Pidato Kebudayaan 2014, sejarawan Hilmar Farid mengingatkan bahwa potensi ekonomi maritim Indonesia bisa mencapai Rp 3.000 triliun per tahun dan menyerap lebih dari 40 juta tenaga kerja. Koes Plus bahkan sudah bilang sejak 1973: “kail dan jala cukup menghidupimu”. Namun kenyataanya kontribusi sektor kelautan terhadap PDB Indonesia saat itu hanya sekitar 20 persen, di bawah Thailand dan Korea Selatan, dua negara yang panjang pantainya jika digabung pun tidak sampai sepuluh persen dari panjang pantai Indonesia.
Lalu datanglah tahun 2014, yang bagi sebagian orang sempat terasa seperti fajar baru. Jokowi naik ke panggung dengan gagasan Poros Maritim Dunia, sebuah visi yang terdengar gagah dan bulat: Indonesia akan menjadi pusat perekonomian dan kekuatan laut global. Dalam pidato pertamanya sebagai presiden, ia sendiri berkata bahwa kita telah lama memunggungi laut. Hilmar Farid dalam pidato kebudayaannya tadi, menyambut momen itu dengan serius dan mengingatkan bahwa masalah kita bukan sekadar kurangnya infrastruktur atau investasi, melainkan lebih mendasar dari itu: terpisahnya laut dari kebudayaan kita.
Sebentar ada optimisme. Lalu selebihnya adalah cerita yang sudah kita kenal. Poros maritim perlahan tenggelam lebih dalam daripada kapal yang diledakkan Susi Pudjiastuti. Program-program infrastruktur terus berjalan, jalan tol dibangun di darat, dan lautan kembali menjadi pemandangan latar yang indah di foto para pejabat yang berlibur ke Lombok. Kebijakan demi kebijakan hadir dengan nama megah namun sepi kelanjutan. Setelah satu decade lebih, pertanyaan Hilmar Farid masih relevan diajukan: mengapa kita masih memunggungi laut?
Pramoedya Ananta Toer, dalam novelnya Arus Balik, menggambarkan bagaimana Nusantara pernah menjadi kesatuan maritim terbesar di antara bangsa-bangsa beradab di muka bumi. Semua arus bergerak dari selatan ke utara: kapal-kapal besar, manusianya, amal perbuatannya, dan cita-citanya. Lalu terjadi arus balik. Kekuasaan atas laut berpindah ke tangan asing, kapal-kapal besar tak lagi dibuat, dan perlahan masyarakat yang dulunya menatap cakrawala samudera bergerak mundur ke pedalaman, menjadi petani, dan melupakan bahwa nenek moyangnya pernah mengarungi separuh dunia. Wiranggaleng, tokoh protagonis novel itu, merenungi dengan pahit: kapal kita makin lama makin kecil, seperti kerajaannya.
Pada 14 Juli 1999, Pramoedya berdiri di aula Perpustakaan Nasional dan berkata dengan keras: negara kita adalah negara maritim tetapi mengapa diduduki oleh Angkatan Darat? Ia menyebut itu sebagai kesalahan historis. Sistem pertahanan yang diwarisi dari Belanda, yang berbasis darat, terus dipertahankan bahkan setelah merdeka. Padahal Belanda sendiri sudah terbukti kalah ketika pertahanan darat itu dihadapkan pada kekuatan luar: kalah dari Inggris, kalah dari Jepang. Pram menuntut keberanian untuk mengkoreksi kesalahan. Tapi keberanian itu, sepertinya, masih dalam proses verifikasi administrasi.
Hilmar Farid mengingatkan bahwa gerak memunggungi laut tidak terjadi serempak di semua tempat, melainkan secara bertahap, dari satu komunitas ke komunitas lain. Ia juga mengingatkan bahwa masalah ini bukan masalah watak bangsa yang malas atau tidak berminat, melainkan masalah sejarah yang panjang dan sistematis: VOC, kolonialisme, feodalisme yang kawin dengan penjajahan, dan akhirnya menghasilkan generasi yang orientasinya adalah daratan. Bahkan ketika Indonesia sudah merdeka, orientasi daratan itu dipertahankan, karena yang berkuasa adalah mereka yang terbiasa berpikir dari perspektif darat. Yang tersisa, lagi-lagi mengutip Pramoedya, adalah masyarakat yang melihat laut sebagai batas, bukan sebagai jalan.
Kembali ke Pokémon Winds dan Pokémon Waves. Barangkali terdengar berlebihan jika kita membanding-bandingkan sebuah game Nintendo dengan cita-cita kebangsaan. Tapi justru di situlah letak ironinya. Pokémon, waralaba yang lahir dari imajinasi seorang anak yang suka menangkap serangga di Jepang, kini merayakan ulang tahun ke-30 dengan menghadirkan sebuah region kepulauan tropis yang penuh laut. Fitur eksplorasi bawah lautnya bukan sekadar gimmick visual: ini adalah sebuah pernyataan bahwa laut adalah ruang yang layak dijelajahi, layak ditinggali, layak dihormati. Starter Pokémon bernama Gecqua, si kadal air yang bergerak lihai sambil melontarkan bola air, tampaknya lebih paham soal hidup di lautan daripada banyak kebijakan kelautan kita yang masih berwajah daratan.
Game Pokémon Winds dan Pokémon Waves, dalam skala kecilnya sebagai produk hiburan, menawarkan sesuatu yang tidak ditawarkan oleh kebanyakan narasi kebangsaan kita: imajinasi yang utuh tentang kehidupan di dan bersama laut. Bukan sekadar laut sebagai sumber daya yang harus dieksploitasi dengan peraturan menteri, bukan laut sebagai sekadar batas wilayah yang harus dijaga dengan kapal patroli yang setengahnya tidak bisa jalan, melainkan laut sebagai dunia yang hidup, yang dihuni, yang layak dijelajahi oleh siapa pun dengan rasa ingin tahu.
Sementara itu, dua Pikachu baru bernama Mr. Windychu dan Ms. Wavychu sudah berdiri di tepi pantai, menunggu untuk menemani petualangan laut pemain dari seluruh dunia. Tidak ada yang tahu persis apa peran keduanya dalam cerita. Tapi setidaknya mereka hadir, menghadap ke laut, bukan memunggunginya.
Tiga puluh tahun usia Pokémon mengajarkan bahwa dunia yang menarik adalah dunia yang penuh dengan makhluk-makhluk yang belum kita kenal, yang menunggu untuk ditemukan. Nusantara punya lautan dengan kedalaman dan kekayaan yang menyediakan itu. Pertanyaannya adalah: kapan kita mau berbalik, menghadapnya, dan bukan memunggunginya?
