Split Bill: Sebuah Upaya Keluar dari Stigma

Oleh: Laillia Dhiah Indriani

Ilustrasi. Muda Bicara ID

“Kami memilih split bill bukan karena tidak sayang, tapi ini cara kami hidup damai tanpa terbebani perihal keuangan duniawi.”

Split Bill mengacu pada keadaan di mana setiap orang dalam kelompok memilih untuk membayar tagihannya sendiri-sendiri. Sebelum istilah split bill populer di kalangan anak muda, praktik serupa sebenarnya sudah banyak dilakukan, hanya saja pada masa itu lebih sering digunakan kata “patungan”. Fenomena split bill kini banyak dijumpai, terutama di kalangan kaum muda, baik dalam hubungan pertemanan, hubungan romantis, bahkan dalam rumah tangga, terutama di kalangan pasangan muda.

Laki-Laki dan Virilitas

Mari kita lihat dari sudut pandang laki-laki terlebih dahulu. Banyak laki-laki yang menolak split bill karena alasan bahwa hal ini bisa “melukai virilitasnya”. Virilitas atau kejantanan adalah ideologi yang memposisikan laki-laki sebagai sosok yang kuat, bertanggung jawab, dan berkuasa. Konsep ini sering digunakan sebagai tolok ukur untuk menilai “kelelakian” seseorang. Akibatnya, banyak laki-laki yang merasa harus menanggung seluruh pengeluaran rumah tangga, mencukupi kebutuhan istri dan anak, serta menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan. Jika hal ini tidak dapat dipenuhi, mereka sering merasa gagal sebagai laki-laki. Kepercayaan ini masih mengakar dalam sebagian budaya masyarakat Indonesia.

Perempuan dan Ketergantungan

Tidak sedikit perempuan juga menolak split bill. Meskipun alasannya bervariasi, namun kebanyakan berkaitan dengan perasaan ketergantungan. Perempuan yang menolak split bill sering merasa bahwa mereka berhak untuk dinafkahi oleh suami. Ketika menikah, mereka menganggap bahwa suami bertanggung jawab penuh atas kebutuhan mereka. Meskipun tidak berlaku untuk semua perempuan, stereotip ini sering digunakan sebagai alasan untuk menyalahkan perempuan apabila terjadi masalah dalam hal keuangan.

Sebagai contoh, dalam kasus-kasus korupsi pejabat, ketika seorang pejabat laki-laki terbukti melakukan korupsi, media sering kali menyorot gaya hidup istri dan anak perempuannya, seolah harta yang mereka nikmati berasal dari hasil korupsi suaminya.

Menelisik Manfaat Split Bill dalam Rumah Tangga

Menerapkan split bill dalam rumah tangga sebenarnya memiliki banyak manfaat. Namun, tantangan terbesar adalah menyamakan persepsi antara suami dan istri. Suami perlu memahami bahwa dalam kondisi ekonomi yang serba sulit, kolaborasi sangat penting untuk menjaga kestabilan rumah tangga. Selain itu, suami harus menyadari bahwa split bill tidak berkaitan dengan menurunnya kelelakian mereka. Mereka akan tetap dihormati sebagai laki-laki, baik dengan atau tanpa split bill.

Di sisi lain, istri perlu memahami bahwa untuk menjaga stabilitas keuangan rumah tangga, peranannya dalam mencari nafkah juga penting.

Jika sudah ada kesepakatan untuk melakukan split bill, berikut beberapa manfaat yang bisa dirasakan bersama:

  1. Kestabilan Ekonomi
    Kolaborasi dalam mencari nafkah akan meringankan beban masing-masing. Semakin banyak pemasukan yang masuk ke rumah tangga, semakin banyak pula yang dapat digunakan untuk kebutuhan bersama seperti cicilan rumah, biaya sekolah anak, atau kebutuhan sehari-hari.
  2. Relasi Setara dalam Rumah Tangga
    Banyak rumah tangga masih dihuni oleh dominasi maskulinitas dan patriarki, di mana laki-laki merasa berhak atas keputusan-keputusan penting dalam keluarga hanya karena mereka menanggung sebagian besar keuangan. Hal ini kerap kali menyebabkan ketegangan, bahkan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Dengan menerapkan split bill, laki-laki dan perempuan bisa saling berkontribusi baik dalam hal penghasilan maupun pengeluaran, sehingga tercipta relasi yang lebih setara dan harmonis.
  3. Menghapuskan Stigma
    Dengan split bill, stigma yang sering melabeli perempuan sebagai “penghabis uang laki-laki” dapat perlahan terhapus. Laki-laki tidak perlu merasa bahwa pengeluaran rumah tangga adalah beban pribadi mereka. Selain itu, baik suami maupun istri bisa lebih leluasa dalam mengatur keuangan pribadi mereka tanpa merasa perlu meminta izin.

Sebuah Upaya Menghapuskan Stigma

Split bill merupakan salah satu cara bagi laki-laki dan perempuan untuk mengontrol prinsip hidup masing-masing tanpa terpengaruh oleh stigma yang ada. Dengan membagi pengeluaran rumah tangga secara merata, keduanya dapat menempati posisi yang setara, saling menghargai, dan berkontribusi secara adil dalam membangun rumah tangga yang lebih sehat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *