Tanpa Petani, Apa Nasib Kita?

Oleh: Seli Silvia Futri (Mahasiswi Universitas Islam Gunung Djati Bandung)

Foto: Pexels

Tiap hari kita tidak pernah lupa untuk makan, dimeja makan selalu terhidang makanan yang selalu kita butuhkan. Terhidang nasi, lauk pauk seperti sayur-mayur, telur, atau sekotak kantong teh untuk kita seduh. Semua mampu muncul begitu saja ataupun bisa kita beli kapan saja. Namun, sebelum makanan tersebut ada dalam kehidupan kita, petani telah menumpahkan keringat disawah, ladang, dan kebun. Lalu tanpa petani, bagaimana kelanjutan hidup kita?

Petani Pendukung Hidup Kita

Para petani berjuang sejak embun pagi hingga pulang kerumah dengan tubuh lelah serta tangan coklat berlumpur. Saat harga pupuk naik melumbung, sawah kering, atau panen gagal total, mereka meratap kesakitan. Namun, pemerintah seakan berlepas tangan terhadap permasalahan yang dihadapi oleh para petani. Ditengah perubahan iklim dan ketidakpastian hasil, mereka tetap merawat tanah demi pangan bangsa terjaga. 

Ketahanan pangan kerap menjadi topik utama dalam forum kebijakan dan publikasi statistik. Namun, saat di lapangan, konsep ini berkaitan langsung dengan kelangsungan hidup masyarakat. Apabila gagal panen terjadi, dampaknya tidak terbatas pada petani semata, melainkan merembet ke seluruh rantai pasok pangan mulai dari pasar tradisional hingga konsumsi rumah tangga.

Regenerasi Sektor Pertanian

Rendahnya regenerasi petani menjai ancaman serius bagi keberlanjutan pertanian Indonesia. Menurut disdikpora.bulelengkab.go.id profesi petani menempati urutan ke 23. Sangat jarang anak muda Indonesia yang menjadikan petadi sebagai cita-citanya. Menurut Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sektor pertanian mengalami lonjakan pertumbuhan tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, yakni mencapai 10,52 persen. Capaian ini berbanding terbalik dengan kondisi pada periode yang sama tahun sebelumnya, di mana sektor pertanian justru mencatat kontraksi sebesar 3,54 persen. Kinerja positif tersebut didorong oleh meningkatnya produksi komoditas utama seperti padi dan jagung, yang masing-masing tumbuh sebesar 51,45 persen dan 39,02 persen pada triwulan I tahun 2025 dibandingkan tahun sebelumnya, serta diperkuat oleh tingginya permintaan domestik. Pencapaian ini menegaskan kembali posisi sektor pertanian sebagai salah satu pilar utama penyangga perekonomian nasional. 

Dengan demikian, pertanian tidak dapat dipandang sebagai sektor pinggiran, melainkan sebagai fondasi penting dalam menjaga ketahanan pangan dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Jika tidak ada regenerasi petani muda, bagaimana nasib bangsa kita ketika generasi berikutnya enggan menekuni profesi ini? Kondisi demografi yang timpang bisa memicu ketergantungan besar pada impor dan mengancam keberlanjutan ketahanan pangan di masa depan. 

Membangun Pertanian yang Adil dan Berkelanjutan

Beberapa faktor mempengaruhi kelemahan pembangunan pertanian di Indonesia antara lain adalah pengelolaan hasil pasca panen, sarana dan prasarana, kepemilikan tanah, akses modal, tingkat pendidikan, penguasaan teknologi, tingkat ketrampilan dan sikap mental petani.(Yigibalom, et al., 2020: hlm. 2) Hal tersebut juga berdampak pada ketidakberdayaan sektor pertanian dalam bersaing di pasar internasional serta menurunnya peranannya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Negara memiliki peran strategis sebagai fasilitator dan pengatur melalui kebijakan pro-petani, penyediaan infrastruktur, kemudahan akses modal, serta program pendidikan dan pelatihan yang berkesinambungan. Solusi konkret dapat direalisasikan dengan memperkuat lembaga petani, mengadopsi teknologi ramah lingkungan, diversifikasi kegiatan tani, serta sinergi antara pemerintah, swasta, akademisi, dan masyarakat sipil guna membentuk ekosistem pertanian yang lebih adil, kompetitif, dan berkelanjutan.Tanpa langkah konkret ini, petani kecil akan tetap terpinggirkan dalam rantai nilai ekonomi.

Peran Konsumen dalam Mendukung Petani

Konsumen memegang peranan penting dalam memperkuat sektor pertanian melalui kegiatan sehari-hari. Dengan mengutamakan produk lokal, mengurangi pemborosan pangan, serta menghapus stigma negatif terhadap profesi petani, masyarakat dapat memberikan dukungan nyata yang menumbuhkan solidaritas sosial. Kesadaran bahwa setiap hidangan merupakan hasil kerja keras petani akan menumbuhkan empati sekaligus komitmen bersama untuk mendukung mereka.

Dalam arus kehidupan urban yang serba cepat, perjuangan petani kerap luput dari perhatian, padahal mereka adalah pilar utama ketahanan pangan bangsa. Petani memastikan ketersediaan bahan pangan pokok yang menopang kemajuan masyarakat. Tanpa keterlibatan konsumen yang peduli, perkembangan teknologi dan pertumbuhan ekonomi akan kehilangan landasan kemanusiaannya.

Menghargai Petani demi Ketahanan Masa Depan

Penghormatan terhadap petani tidak cukup hanya diwujudkan dalam peringatan Hari Petani nasional saja, melainkan harus melalui aksi nyata. Upaya tersebut mencakup pemberian harga jual yang adil, akses terhadap pembiayaan dan teknologi, perlindungan lahan produktif dari alih fungsi, serta kebijakan yang menempatkan kesejahteraan petani sebagai prioritas. Dengan langkah tersebut, ketahanan pangan dapat terjaga sekaligus memastikan masa depan pertanian yang lebih berdaya saing dan berkelanjutan.

Tanpa petani, meja makan kita akan kosong, dan tanpa pangan yang berdaulat, masa depan bangsa berada dalam ancaman. Petani bukan sekadar profesi tradisional, melainkan penopang utama kehidupan bersama, ekonomi, dan budaya. Sudah saatnya petani ditempatkan sebagai subjek pembangunan, bukan sekadar objek kebijakan.

Pertanyaan “tanpa petani, apa nasib kita?” seharusnya tidak hanya menjadi judul, tetapi menjadi renungan bersama. Selama kita masih membutuhkan pangan untuk bertahan hidup, selama itu pula keberadaan petani harus dijaga, dihargai, dihormati dan diperjuangkan.

DAFTAR PUSTAKA

Yigibalom, Y. et al. (2020). Vol. 13 No. 2 / April – Juni 2020. 13(2).

bps.go.id/id. (2025). Ekonomi Indonesia di Tengah Ketidakpastiian Global. Diakses pada 13 Desember 2025, pada https://www.bps.go.id/id/news/2025/05/05/703/ekonomi-indonesia-tetap-tumbuh-di-tengah-ketidakpastian-global.html

desanglanggeran.gunungkidulkab.go.id. (2016). Tanpa Petani Makan Apa Kita. Diakses pada 13 Desember 2025, pada https://desanglanggeran.gunungkidulkab.go.id/first/artikel/194-Tanpa-Petani-Kita-Makan-Apa-

Fatimah, Siti. (2019). Jangan Jadikan Negara Agraris Kita Tanpa Petani. Diakses pada 13 Desember 2025, pada https://disdikpora.bulelengkab.go.id/informasi/detail/artikel/jangan-jadikan-negara-agraris-kita-tanpa-petani-70

Ansharullah, Mahyeldi. (2025). Membangun Citra Positif Petani untuk Mewujudukan Generasi Emas Sumatera Barat. Diakses pada 13 Desember 2025, pada https://sumbar.antaranews.com/berita/713732/membangun-citra-positif-petani-untuk-mewujudkan-generasi-emas-sumatera-barat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *