Secercah Harapan pada Pemilu 2024: Yang Muda Bergerak Menyukseskan Makna Tiap Suara Rakyat
Kontributor: Mariana Sri Rahayu Yohana Silaban – Relawan Pemantau KISP

Pemilihan umum (pemilu) menjadi bagian tersohor dalam sistem pemerintahan demokrasi. Pemilu menunjukkan bahwa terdapat kebebasan bagi setiap rakyat menggunakan hak pilih untuk memilih pemimpin yang dipercaya akan mengelola sistem tatanan hidup. Namun, sebebas bebasnya memilih, regulasi akan tetap selalu ada di dalamnya untuk menjaga keadilan, kepastian, dan kemaslahatan hukum bagi tiap-tiap rakyat. Tentu sangat paradoks, tetapi ini demi kepentingan bersama dan sebagai perwujudan tujuan dari hukum itu sendiri.
Indonesia menjadi salah satu negara demokrasi yang setiap lima tahun sekali diadakan pesta demokrasi, yaitu pemilihan umum. Tahun ini (2024) menjadi periode pemilu di Indonesia untuk calon eksekutif (presiden dan wakil presiden) dan calon legislatif (DPR RI, DPD, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota). Tentu ada banyak sekali perhatian besar dalam menyikapi proses penggelaran pesta demokrasi ini. Tidak hanya pada hari pemilu, tetapi juga pra-pemilu hingga pasca-pemilu. Pengawalan pada setiap proses menjadi bentuk kesadaran jiwa untuk memahami realitas bahwa akan selalu ada kemungkinan di luar rencana selama proses itu berlangsung. Ini bukan bentuk pesimisme, tetapi perlu kesadaran bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati.
Rabu, 14 Februari 2024 menjadi hari yang paling berpengaruh untuk Indonesia kedepannya. Sebagai anak muda saya ikut serta menjadi relawan pemantau beberapa tps di Desa Sinduadi, Mlati, DI Yogyakarta. Ini menjadi pengalaman pertama dan cukup membuat diri bergairah menyusuri tiap tps untuk melihat apa saja yang terjadi di setiap tps. Tps 88 dan 89 yang berada di SDN Pogung Kidul menjadi tps pertama yang saya pantau. Tepat pukul 07.08 WIB saya hadir dan menjumpai beberapa pemilih yang sudah duduk menunggu dimulainya pemungutan suara. Mayoritas dari pemilih adalah lansia. Saya kemudian mencoba masuk ke ruang pemungutan suara, di sana terdapat beberapa petugas KPPS dan pengawas Bawaslu. Tps tersebut cukup ramah terhadap lansia dan difabel karena terdapat tempat prioritas bagi mereka. Saya juga meminta beberapa tanggapan dari pemilih di sana mengenai hal pemungutan suara dan menyodorkan beberapa pertanyaan dari kuisioner yang telah diberikan oleh Komite Independen Sadar Pemilu.
Pukul 07.46 WIB, saya bergeser ke tps selanjutnya, yaitu TPS 90-91 SD Sinduadi Timur. Saat itu telah berjalan proses pemungutan suara, tidak ada kejadian aneh di sana dan tetap saya menyodorkan beberapa pertanyaan kepada salah satu warga. Kemudian, saya bergeser ke TPS 92- 95 di SD Salman Alfarisi. Tps ini tidak cukup ramah untuk difabel dan lansia, tepatnya di TPS 93, warga dipersilahkan menunggu di luar dan tidak ada taratap untuk melindungi dari panas matahari. Saya juga melihat salah satu warga difabel tidak diprioritaskan untuk lebih dulu dan tidak dituntun masuk ruang pemungutan suara. Cukup lama saya di sana untuk meminta jawaban atas kuesioner. Selanjutnya, saya menuju TPS 86, tepat di salah satu rumah warga di Pogung Kidul, kondisi aman dan tidak banyak warga yang hadir. TPS 87 Balai RW 49 Pogung Kidul menjadi tempat terakhir yang saya pantau. Tepat say hadir, dua mahasiswa dengan DPTb cukup jengkel karena sudah memberikan surat keterangan, tetapi petugas KPPS cukup lama untuk memberi giliran mencoblos saat itu. Saya hadir hingga penghitungan suara capres dan cawapres pada saat itu yang disertai tiga saksi.
Kegiatan pemantauan ini menjadi pengalaman pertama saya sehingga saya menyadari betul bahwa banyak sekali hal-hal yang harus diperhatikan dan dibenahi dalam pemilu. Sebagai anak muda mengambil bagian menjadi relawan adalah suatu wujud perenungan dan penghormatan bagi pendiri negara kita maka memberanikan diri untuk ikut menjadi relawan pemantau pemilu adalah wujud penghormatan kepada tiap suara rakyat. Akhirnya saya ingin mengucapkan bahwa anak muda adalah mereka yang mau mengulurkan tangannya dengan menurunkan sedikit egonya juga membuka pikiran dan hati untuk senantiasa menjadi bagian yang memberikan secercah harapan bagi tiap-tiap aksi demi menghidupkan demokrasi.
